Griya Gayeng Kayon Miring. Silakan mampir, ngobrol, ngopi, nglaras... salam - nanang hape
Friday, December 23, 2011
#sempalan
Hujan saja bisa bikin pelangi, apalagi keringat... #sempalan
Pengikut saja ditawar, apalagi pemimpin...#sempalan
Kalau di terang tak kelihatan, apa sebaiknya digelapkan saja supaya terdengar...#sempalan
Peluit saja sakti di lapangan, masa pidato cuma sakti di ruangan?#sempalan
Sekali lagi, hujan saja bisa bikin pelangi, apalagi keringat... apalagi yang menetes dari singgasana... kan tinggi...#sempalan
Kenapa semboyan bisa awet muda, sementara slogan belum muda keburu renta...#sempalan
Wayang saja bisa bikin ngantuk, apalagi dalang...#sempalan
Pacar saja tidak dipercaya, apalagi hakim...#sempalan
Dua setengah tahun itu cukup lama, lebih dari cukup untuk bunuh diri... Paham gak sih Pak?#sempalan
Ada kalanya, sepurnama apapun bulan yang kita siapkan, hanya orang tertentu yang merasakan, karena langit sedang mendung.#sempalan
Pengikut saja ditawar, apalagi pemimpin...
Kalau di terang tak kelihatan, apa sebaiknya digelapkan saja supaya terdengar...
Peluit saja sakti di lapangan, masa pidato cuma sakti di ruangan?
Sekali lagi, hujan saja bisa bikin pelangi, apalagi keringat... apalagi yang menetes dari singgasana... kan tinggi...
Kenapa semboyan bisa awet muda, sementara slogan belum muda keburu renta...
Wayang saja bisa bikin ngantuk, apalagi dalang...
Pacar saja tidak dipercaya, apalagi hakim...
Dua setengah tahun itu cukup lama, lebih dari cukup untuk bunuh diri... Paham gak sih Pak?
Ada kalanya, sepurnama apapun bulan yang kita siapkan, hanya orang tertentu yang merasakan, karena langit sedang mendung.
Thursday, December 22, 2011
#pungun
Gampangnya, anggap saja sebagai 'separuh terbangun'... baik dari mimpi buruk, indah maupun basah. Juga dari lelah yang parah. #pungun
Pungun-pungun Arjuna bangun dari alpa, bangkit dari keluh kesah berkepanjangan setelah Banowati dipersunting Prabu Duryudana.#pungun
Pungun-pungun Bima sadar dari pingsan. Di penghujung Baratayuda, gada Duryudana telak menghajar rahang keyakinan menangnya.#pungun
Pungun-pungun Kumbakarna saat jutaan kera menyerbu Alengka. Hatinya belum lagi sembuh, naluri raksasanya telah menggerung geram.#pungun
Pungun-pungun Anoman tawar dari racun cinta Sayempraba, tapi hatinya terlanjur cuwil, gempil, serpihannya tercecer di pintu gua.#pungun
Pungun-pungun pengantin baru terbangun, dan masih kaget melihat seseorang disampingnya. Ingatan menghianati peristiwa semalam.#pungun
Baiklah, lebih gampangnya begini, pungun-pungun itu menjelang bangun, kalau liyep-liyep menjelang tidur. Kurang lebih begitu.#pungun
Kalau besok pagi bertemu dengan pungun, mari iseng bertanya. Dia dan liyep ada hubungan apa ya... *salam#pungun
Pungun-pungun Arjuna bangun dari alpa, bangkit dari keluh kesah berkepanjangan setelah Banowati dipersunting Prabu Duryudana.
Pungun-pungun Bima sadar dari pingsan. Di penghujung Baratayuda, gada Duryudana telak menghajar rahang keyakinan menangnya.
Pungun-pungun Kumbakarna saat jutaan kera menyerbu Alengka. Hatinya belum lagi sembuh, naluri raksasanya telah menggerung geram.
Pungun-pungun Anoman tawar dari racun cinta Sayempraba, tapi hatinya terlanjur cuwil, gempil, serpihannya tercecer di pintu gua.
Pungun-pungun pengantin baru terbangun, dan masih kaget melihat seseorang disampingnya. Ingatan menghianati peristiwa semalam.
Baiklah, lebih gampangnya begini, pungun-pungun itu menjelang bangun, kalau liyep-liyep menjelang tidur. Kurang lebih begitu.
Kalau besok pagi bertemu dengan pungun, mari iseng bertanya. Dia dan liyep ada hubungan apa ya... *salam
#obong
Hari-hari lewat begitu saja, begitulah Rama merasa sejak Sinta diculik
oleh Rahwana. Banyak yang berubah, tapi tidak dengan batinnya. #obong
Dendamnya pada Rahwana awet muda. Dendam pengantin baru yang dipisahkan paksa. Umur bertambah, tapi tidak dengan sejarah. Marah.#obong
Pucuk hatinya terlanjur hangus dibakar prasangka. Hari yang gerah di Pancawati. Rama dan jutaan kera yang menunggu titah. Lukisan.#obong
Sementara, Sinta dikepung rayuan di sana. Samar-samar tembus ke seberang laut. Sontak Rama menggerung, melepas cincin. Diam badai.#obong
Kera mana saja yang mampu mengantarkan cincin ini secepatnya, majulah. Anoman lima belas hari. Anggada seminggu. Lima, tiga, semalam.#obong
Dari bukit ke hamparan pasir, dari pasir ke karang, dari karang, satu lompatan berikutnya, Anoman sampai ke seberang. Ibukota.#obong
Dari pasir ke dahan, cabang ke ranting, dari atas pohon Nagasari, Anoman meluncur turun. Seorang perempuan menyambutnya. Inikah?#obong
Lewat mata keranya yang waspada, Anoman tahu, bening di sudut kerling Sinta telah membatu. Ia tak mampu memandangnya. Tunduk.#obong
Cincin diserahkan. Anoman tahu, Sinta kecewa. Kini telah terlalu longgar. Sesaat, cincin itu telah terpasang di ibu jari tangan kiri.#obong
Dengan tangan yang sama, Sinta melepas kancing gelung, mengurai rambutnya. Rambut yang membangkitkan hasrat, tergerai sudah.#obong
Kancing gelung diserahkan, Anoman gemetar. Sinta silam tanpa kata, wanginya saja yang tertinggal. Di seberang, Rama terbangun.#obong
Digerakkan oleh napasnya yang tiba-tiba memburu, Anoman mengamuk. Taman Soka diobrak-abrik. Besok, rayuan Rahwana akan tertunda.#obong
Geger di Alengka. Ratusan raksasa penjaga mengerubut, yang lain lintang pukang belum paham, menyambar senjata. Perang. Perangkap.#obong
Indrajit, anak Rahwana yang sakti meringkus Anoman. Kera itu dihajar, diseret, diikat dan kini telah berada di tumpukan kayu bakar.#obong
Api kemarahan Rama yang menyulutnya, asmara dahana. Api meliuk seperti tembang. "Nyali seorang pencuri, dibatasi sembunyian, ...#obong
... di taman bunga karaton, meski hatimu berpesta, sungguh tak akan lama, aku yang akan memburu, membakarmu dengan rasa."#obong
Api menjilat-jilat, seperti penjilat menjilati tapak kaki dewa-dewi. Anoman pulang membawa pesan, Rahwana tak jera-jera. *salam#obong
Dendamnya pada Rahwana awet muda. Dendam pengantin baru yang dipisahkan paksa. Umur bertambah, tapi tidak dengan sejarah. Marah.
Pucuk hatinya terlanjur hangus dibakar prasangka. Hari yang gerah di Pancawati. Rama dan jutaan kera yang menunggu titah. Lukisan.
Sementara, Sinta dikepung rayuan di sana. Samar-samar tembus ke seberang laut. Sontak Rama menggerung, melepas cincin. Diam badai.
Kera mana saja yang mampu mengantarkan cincin ini secepatnya, majulah. Anoman lima belas hari. Anggada seminggu. Lima, tiga, semalam.
Dari bukit ke hamparan pasir, dari pasir ke karang, dari karang, satu lompatan berikutnya, Anoman sampai ke seberang. Ibukota.
Dari pasir ke dahan, cabang ke ranting, dari atas pohon Nagasari, Anoman meluncur turun. Seorang perempuan menyambutnya. Inikah?
Lewat mata keranya yang waspada, Anoman tahu, bening di sudut kerling Sinta telah membatu. Ia tak mampu memandangnya. Tunduk.
Cincin diserahkan. Anoman tahu, Sinta kecewa. Kini telah terlalu longgar. Sesaat, cincin itu telah terpasang di ibu jari tangan kiri.
Dengan tangan yang sama, Sinta melepas kancing gelung, mengurai rambutnya. Rambut yang membangkitkan hasrat, tergerai sudah.
Kancing gelung diserahkan, Anoman gemetar. Sinta silam tanpa kata, wanginya saja yang tertinggal. Di seberang, Rama terbangun.
Digerakkan oleh napasnya yang tiba-tiba memburu, Anoman mengamuk. Taman Soka diobrak-abrik. Besok, rayuan Rahwana akan tertunda.
Geger di Alengka. Ratusan raksasa penjaga mengerubut, yang lain lintang pukang belum paham, menyambar senjata. Perang. Perangkap.
Indrajit, anak Rahwana yang sakti meringkus Anoman. Kera itu dihajar, diseret, diikat dan kini telah berada di tumpukan kayu bakar.
Api kemarahan Rama yang menyulutnya, asmara dahana. Api meliuk seperti tembang. "Nyali seorang pencuri, dibatasi sembunyian, ...
... di taman bunga karaton, meski hatimu berpesta, sungguh tak akan lama, aku yang akan memburu, membakarmu dengan rasa."
Api menjilat-jilat, seperti penjilat menjilati tapak kaki dewa-dewi. Anoman pulang membawa pesan, Rahwana tak jera-jera. *salam
#dadu
Entahlah, adik-adikku Pandawa. Hari ini kalian meminta ijin untuk
berangkat ke Hastina. Akan ada permainan di sana. Kalian diundang. #dadu
Harus ada yang tinggal untuk memastikan Indraprasta baik-baik saja. Jika seorang raja berkelana, serta merta negerinya dalam bahaya.#dadu
Ini akan panjang, maka sebaiknya kalian kulepaskan. Sepahit apapun nantinya, jangan kausesalkan. Karena memang perlu dan harus begitu.#dadu
Seperti umumnya perjudian, dadu yang akan menjadi penentunya. Maka perhatikan saja orang yang memutarnya. Selebihnya adalah nasib.#dadu
Bahkan jika harus terpeleset, kalian hanya perlu mengulang memanjatnya.
Percayalah, karena aku sudah pernah. Itulah gunanya tanah. #dadu
Maka Hastina adalah tegalan, arena pertaruhan, tempat bagi jiwa-jiwa untuk jatuh dan lalu tumbuh. Akan ada tahun-tahun yang panas.#dadu
Panas yang memurnikan, yang melebur bijih emas, menggenapkan karatnya. Kalian akan tercatat dalam sejarah, aku 'telah' membacanya.#dadu
Jadi, semoga kaupahami, dadu di Hastina nanti, bukan soal kalah menang. Itu ranting seperti kubilang. Tumbuhlah. *peluk -Kresna-#dadu
Harus ada yang tinggal untuk memastikan Indraprasta baik-baik saja. Jika seorang raja berkelana, serta merta negerinya dalam bahaya.
Ini akan panjang, maka sebaiknya kalian kulepaskan. Sepahit apapun nantinya, jangan kausesalkan. Karena memang perlu dan harus begitu.
Seperti umumnya perjudian, dadu yang akan menjadi penentunya. Maka perhatikan saja orang yang memutarnya. Selebihnya adalah nasib.
Di setiap pilihan,
sebagaimana cabang, maka ranting di depannya adalah pilihanmu juga.
Sepanjang tak lupa ketinggian, itu tak apa. #dadu
Maka Hastina adalah tegalan, arena pertaruhan, tempat bagi jiwa-jiwa untuk jatuh dan lalu tumbuh. Akan ada tahun-tahun yang panas.
Panas yang memurnikan, yang melebur bijih emas, menggenapkan karatnya. Kalian akan tercatat dalam sejarah, aku 'telah' membacanya.
Jadi, semoga kaupahami, dadu di Hastina nanti, bukan soal kalah menang. Itu ranting seperti kubilang. Tumbuhlah. *peluk -Kresna-
#laraireng
Kusumastuti ini | buatmu adikku | Bratajaya yang hitam | yang ikal rambutmu | Kudendangkan perlahan | nada sayup-sayup. #laraireng
Sendu senandung dusun | nyanyian pematang | Gemericik aliran | di pekatnya lumpur | Agar adik tak lupa | pijakan pertama.#laraireng
Betapa waktu itu | tertatih langkahmu | Liku jalanan licin | di Widarakandang | Saksi kita berbincang | menuju Mandura.#laraireng
Adik masih remaja | belum ini itu | Belum kenal Arjuna | busur dan panahnya | Belum pernah terjatuh | di benderang kota.#laraireng
Tentu bukan maksudku | mengganggu mimpimu | Jadi sederhananya | anggap saja angin | Yang iseng menerabas | lubang jendelamu.#laraireng
Semoga bisikanku | memahat hatimu | Bukan pahatan baru | itu gambar lama | Yang pudar tertutupi | kerak hari-hari.#laraireng
Adikku Bratajaya | tenangkan dirimu | Kusumastuti ini | sekedar pesanku | Demi Widarakandang | sisihkanlah waktu.#laraireng
Sendu senandung dusun | nyanyian pematang | Gemericik aliran | di pekatnya lumpur | Agar adik tak lupa | pijakan pertama.
Betapa waktu itu | tertatih langkahmu | Liku jalanan licin | di Widarakandang | Saksi kita berbincang | menuju Mandura.
Adik masih remaja | belum ini itu | Belum kenal Arjuna | busur dan panahnya | Belum pernah terjatuh | di benderang kota.
Tentu bukan maksudku | mengganggu mimpimu | Jadi sederhananya | anggap saja angin | Yang iseng menerabas | lubang jendelamu.
Semoga bisikanku | memahat hatimu | Bukan pahatan baru | itu gambar lama | Yang pudar tertutupi | kerak hari-hari.
Adikku Bratajaya | tenangkan dirimu | Kusumastuti ini | sekedar pesanku | Demi Widarakandang | sisihkanlah waktu.
Subscribe to:
Posts (Atom)