Friday, January 6, 2012

#777

Orang bertanya-tanya | apa benar dendamku | memang sebesar itu. | Pantang menggelung rambut | sebelum membasuhnya | membasahi helainya. #777

Mengeramasi dengan | darah Dursasana | yang menelanjangiku. | Bukankah itu kejam? | Benar tak berhatikah | Drupadi, aku ini? #777

Biarlah itu tetap | menjadi peristiwa | untuk dikenang-kenang. | Sudah jadi takdirku | merelakan sejarah | untuk masa yang baru. #777

Inilah tembang itu | nama Sekar Pancali. | Untuk diulang-ulang | dan dicatatdendangkan | meski aku berganti. *Pancali #777

#diary

Janur telah kering, bantalku masih basah. Liur Duryudana, dan luhku. -Banowati-

Aku membunuh Ekalaya, Anggraini istrinya bunuh diri, aku kalah. -Arjuna-  

Aku pun pernah muda, masih suka gula-gula, kurang asam garam. -Salya-  

Aku cuma payung. Cukup untuk hujan, tapi tidak untuk badai. -Madrim-

Ya, aku senang dipuji, tapi aku memilih orang-orang yang layak melakukannya. -Srikandi-  

*silent... Hmm... Absen dulu ya. -Gatotkaca-  

Ini purnama ke 73 aku ditawan Rahwana, oh... 74... 73... Rama, kau menghitung juga? -Sinta-

Kita kok gak keluar-keluar ya... -Panakawan- *pathetan

#konteks

Panakawan berlarian, berebut teduhan payung, sementara di istana, Abimanyu bahkan tak tahu di luar sedang hujan. Hampir badai.

Seorang prajurit, tanpa ditanya, bilang. Cuma mendung. Saat dia masuk, memang benar hujan belum turun. Padahal kini hampir banjir.  

Abimanyu keluar jika dan hanya jika terjadwal. Terlanjur begitu sebagai putra mahkota yang digadang-gadang. Dipaksa, lalu terbiasa.  

Istana megah itu tanpa jendela, cuma cerita dari mulut orang-orang yang dipercaya. Panakawan mulai harus berenang untuk sampai.

Menyelam karena seluruh negeri tenggelam. Kecuali istana. Kecuali Abimanyu yang dipaksa percaya, di luar tidak terjadi apa-apa.  

Sehabis hujan, tenang. Abimanyu masih di dalam. Yang dia tidak tahu, tenang ini adalah karena terlanjur habis-habisan.  

So, Mas Abimanyu, istana hujan nggak? *malam

#baru

Tahun yang pergi dan yang datang, aku menyambungnya dengan gerimis kecil. Kepyur-kepyur. -Sinta-

Aku baru berkemas, kau sudah terlalu lama menanti. Selang setahun yang kebetulan juga selang sehari. -Rama-  

Jangankan tahun, putaran windu yang berkali-kali pun tak apa. Asal ada cinta, kapanpun matiku adalah mati muda. -Rahwana-  

Mengabdi pada Rama setahun ini adalah keputusan yang benar. Tapi tetap saja aku merasa bersalah. -Wibisana-

Dunia memang penuh dengan tujuan, tapi waktu hanya melintas sekali, melintas begitu saja. -Laksmana-  

#takon

Masih soal Wisanggeni. Semalam kami ngobrol 'parikena' 'guyon maton' lagi. Bergelap-gelap untuk mencari terang.

Tanya: Apa yang istimewa dari naik? | Wisanggeni: Tidak ada, kecuali harapanmu cukup tinggi.  

Tanya: Apa yang istimewa dari turun? | Wisanggeni: Tidak ada, kecuali kita makin rendah hati.  

Tanya: Apa yang istimewa dari keringat? | Wisanggeni: Semuanya, kecuali jika keluar karena dipaksa.

Tanya: Apa yang istimewa dari air mata? | Wisanggeni: Kekuatannya. Makin jarang digunakan, makin istimewa.  

Tanya: Apa yang istimewa dari terompet tahun baru? | Wisanggeni: Perasaanmu. Berbagi atau mencari gembira... *break *pathetan  

#alamalaman

Gareng: Pak Dokter, saya makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Apa obatnya? | Petruk: Wah berat, udah miskin, nggak bahagia.

Bagong: Pak Dokter, saya miskin dan nggak bahagia. Apa obatnya? | Petruk: Wah, berat. Pasti makan gak enak tidur gak nyenyak.

Petruk: Baiklah, saya butuh waktu untuk menemukan obatnya. | Gareng + Bagong: Wah... Berat...

#takon

Lagi di Megamendung, mampir Megamalang ketemu Wisanggeni lagi begadang. Waktunya nanya-nanya. Yang mau nitip, silakan *pathetan

Tanya: dendam gak sama Durga?! | Wisanggeni: hehe... nadamu... kamu kali yang dendam...

Tanya: siapa lebih licik, Kresna atau Sengkuni? | Wisanggeni: Jadi mereka berdua licik?

Tanya: Sinta itu mencintai Rama atau Rahwana? | Wisanggeni: Salah nanya kamu, ke Pakde Anoman sana.  

Tanya: seperti apa Candradimuka itu? | Wisanggeni: Seperti rahim, ingat nggak?  

Tanya: Kenapa suka turun ke bumi, bukankah di kahyangan lebih enak? | Wisanggeni: untuk merasa kenyang, harus mau lapar dulu.

Tanya: Apa yang istimewa dari malam? | Wisanggeni: Tidak ada, kecuali kau menjaganya.  

Tanya: Apa yang istimewa dari pagi? | Wisanggeni: Tidak ada, kecuali yang terbit itu mataharimu.  

Tanya: Apa yang istimewa dari siang? | Wisanggeni: Tidak ada, kecuali kau berhenti sejenak.

Tanya: Apa yang istimewa dari senja? | Wisanggeni: Tidak ada, kecuali kau ingat 'rumah'.  

Tanya: Apa yang istimewa dari gaduh? | Wisanggeni: sepi setelahnya.  

Tanya: Lalu apa yang istimewa dari sepi? | Wisanggeni: Kerelaanmu untuk kadang-kadang ditinggalkan.

Tanya: Apa yang istimewa dari bintang? | Wisanggeni: Kalau belum bisa dengan tanganmu, selalukan dengan anganmu.  

Tanya: Kalau yang istimewa dari bulan? | Wisanggeni: Sudah menjadi biasa, kecuali masih kautabuh lesung saat gerhana.  

Tanya: Yang istimewa dari musikalisasi puisi? Puisinya kan? | Wisanggeni: Ya, dan suara Mbakyuku.

Tanya: Yang istimewa dari gitar? | Wisanggeni: Usai dipetik kembali jadi perempuan.  

Tanya: Apa yang istimewa dari pertanyaanku? | Wisanggeni: Pertanyaan? Kau cuma ingin menyamakan jawaban. Hehe. *sampun nggih